on Saturday, December 27, 2008

Abrupt climate shifts may move faster than thought

/top_stories/article/38913

San Francisco-- The United States could suffer the effects of abrupt climate changes within decades—sooner than some previously thought--says a new government report. It contends that seas could rise rapidly if melting of polar ice continues to outrun recent projections, and that an ongoing drought in the U.S. west could be the start of permanent drying for the region. Commissioned by the U.S. Climate Change Science Program, the report was authored by experts from the U.S. Geological Survey, Columbia University's Lamont-Doherty Earth Observatory and other leading institutions. It was released at this week's meeting of the American Geophysical Union.

Many scientists are now raising the possibility that abrupt, catastrophic switches in natural systems may punctuate the steady rise in global temperatures now underway. However, the likelihood and timing of such "tipping points," where large systems move into radically new states, has been controversial. The new report synthesizes the latest published evidence on four specific threats for the 21st century. It uses studies not available to the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), whose widely cited 2007 report explored similar questions. "This is the most up to date, as it includes research that came out after IPCC assembled its data," said Edward Cook, a climatologist at Lamont-Doherty and a lead author of the new study.

The researchers say the IPCC's maximum estimate of two feet of sea level rise by 2100 may be exceeded, because new data shows that melting of polar ice sheets is accelerating. Among other things, there is now good evidence that the Antarctic ice cap is losing overall mass. At the time of the IPCC report, scientists were uncertain whether collapses of ice shelves into the ocean off the western Antarctica were being offset by snow accumulation in the continent's interior. But one coauthor, remote-sensing specialist Eric Rignot of the Jet Propulsion Laboratory, told a press conference at the meeting: "There is a new consensus that Antarctica is losing mass." Seaward flow of ice from Greenland is also accelerating. However, projections of how far sea levels might rise are "highly uncertain," says the report, as researchers cannot say whether such losses will continue at the same rates.

In the interior United States, a widespread drought that began in the Southwest about 6 years ago could be the leading edge of a new climate regime for a wider region. Cook, who heads Lamont's Tree Ring Lab, says that periodic droughts over the past 1,000 years have been driven by natural cycles in air circulation, and that these cycles appear to be made more intense and persistent by warming. Among the new research cited is a 2007 Science paper by Lamont climate modeler Richard Seager, showing how changes in temperature over the Pacific have driven large-scale droughts across western North America. "We have no smoking gun saying that humans are causing the current changes. But the past is a cautionary tale," Cook told the press conference. "What this tells us is that the system has the ability to lock into periods of profound, long-lasting aridity. And there is the suggestion that these changes are related to warmer climate." Cook added: "If the system tips over, that would have catastrophic effects no human activities and populations over wide areas."

The panel said two other systemic changes seem less imminent, but are still of concern. Vast quantities of methane, a potent greenhouse gas, have long been locked up in ocean sediments, wetlands and permafrost. These could be destabilized by climate change, leading to blowouts of gas, and thus even more abrupt temperature shifts. The panel said blowouts appear unlikely in the next 100 years—but that steady emissions could double, especially in the north, as land and water warm up. The panel also looked at the continuous circulation of the Atlantic Ocean, which sends warm water northward and cold water southward, controlling the climate of western Europe and beyond. Some scientists say this circulation could collapse if enough northern ice melts and dilutes the salty water. The panel found this scenario unlikely in the short term, but warned that the circulation's strength might decline 25% to 30% by 2100.

"Abrupt climate change presents potential risks for society that are poorly understood," the researchers write. [There is an] urgent need for committed and sustained monitoring of those components [that] are particularly vulnerable."

###

The report, Synthesis and Assessment Product 3.4: Abrupt Climate Change, is at: http://www.climatescience.gov/Library/sap/sap3-4/final-report/default.htm.

The Earth Institute at Columbia University mobilizes the sciences, education and public policy to achieve a sustainable earth. Through interdisciplinary research among more than 500 scientists in diverse fields, the Institute is adding to the knowledge necessary for addressing the challenges of the 21st century and beyond. www.earth.columbia.edu

Lamont-Doherty Earth Observatory, a member of The Earth Institute, is one of the world's leading research centers seeking fundamental knowledge about the origin, evolution and future of the natural world. More than 300 research scientists study the planet from its deepest interior to the outer reaches of its atmosphere, on every continent and in every ocean--from global climate change to earthquakes, volcanoes, nonrenewable resources, environmental hazards and beyond. www.ldeo.columbia.edu (ENN)

Sambut Hari Bumi, Walhi Serukan Jeda Tebang

on Monday, April 23, 2007

Jakarta (ANTARA News) - Menyambut Hari Bumi, 22 April, Wahana Lingkungan
Hidup (WALHI) serukan "Jeda Tebang" untuk menghentikan sementara eksplorasi
dan penggundulan hutan yang membawa bencana ekologis bagi Indonesia.

"Hutan di Indonesia berada pada titik kritis karena deforestrasi tak pernah
sungguh-sungguh diatasi dengan benar oleh negara," kata Direktur Eksekutif
Nasional WALHI, Chalid Muhammad, di Jakarta, Jumat.

Chalid mengungkapkan jeda tebang adalah menghentikan sejenak aktivitas
penebangan dan konversi hutan dengan tujuan mengambil jarak dari masalah
agar di[eroleh jalan keluar yang bersifat jangka panjang dan permanen.

Berdasarkan data WALHI, pada 2006 tercatat laju kerusakan hutan kepulauan
nusantara mencapai 2,72 hektar. Tingginya angka konsumsi kayu, kertas, dan
sawit di Eropa, India, dan Cina juga mendorong terjadinya konversi hutan
menjadi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri.

"WALHI mencatat lebih dari 65 persen berbagai produk hutan di ekspor ke
berbagai negara. Mendorong lebih dari 28 juta hektar di konversi dan
dialokasikan bagi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri,"
ujarnya lagi.

Chalid mengatakan jeda tebang dilaksanakan selama paling sedikit 15 tahun.
Kurun waktu tersebut, lanjutnya, cukup untuk memperbaiki seluruh tata kelola
dan kebijakan yang selama ini tumpang tindih yang seringkali berakhir dengan
penyelesaian masalah di lapangan.

"Jeda tebang adalah pilihan yang paling masuk akal, sebab kerusakan hutan
alam di Indonesia tercatat 2,72 hektar per tahun, dengan eksplorasi
besar-besaran di berbagai wilayah Indonesia maka diperkirakan pada 2012
hutan alam di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi akan musnah," katanya.

Perkiraan tersebut, lanjutnya, didasarkan pada kenyataan bahwa cadangan
hutan produksi yang tersisa masih memiliki tutupan baik seluas 41,25 juta
hektar, pasokan bahan baku kayu dari hutan tanaman indsutri hanya sanggup
memenuhi kebutuhan industri pulp, dan melihat bahwa biofuel akan memicu
percepatan pelepasan kawasan untuk perkebunan kelapa sawit.

Disinggung soal program percepatan pembanguna Hutan Tanaman Rakyat, Chalid
mengakui hal itu dapat menekan angka penebangan. Namun demikian bila HTR
dibangun pada 2008 maka hasilnya baru akan diperoleh pada 2016 saat dimana
hutan alam di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi telah punah mengikuti jejak
hutan alam di Jawa.

Sementara itu pemerintah, ujarnya, selalu menafikkan tiga maslah mendasar di
sektor kehutanan yakni tidak adanya pengakuan terhadap hak rakyat dalam
pengelolaan hutan, korupsi, dan besarnya kesenjangan antara pasokan dan
permintaan.

"WALHI juga mencatat sekitar 500 peraturan di sektor kehutanan juga tumpang
tindih sehingga akhirnya berbagai konflik diselesaikan di lapangan,
kebijakan-kebijakan yang membingungkan dan tata kelola yang tidak menyentuh
substansi masalah mendorong Indonesia dalam siklus bencana ekologis yang
kronis. Disinilah dibutuhkan jeda tebang," tambahnya.

Peringatan Hari Bumi yang di gelar WALHI akan di gelar di Bunderan Hotel
Indoensia pada Minggu (22/4) dengan tema "Selamatkan Hutan dnegan Tanganmu,
Jeda Tebang Sekarang". Aksi simpatik ini rencananya akan diikuti sahabat
WALHI dari seluruh Indonesia dan amsyarakat Jakarta.

Aksi itu akan diikuti Jambore Nasional Sahabat WALHI 2007 yang berlangsung
Senin (23/4) di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan. Pembukaan jambore
itu rencananya akan dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa
Dault
.(*)

------------ --------- --------- -------- ambut Hari Bumi, Walhi Serukan Jeda Tebang

Jakarta (ANTARA News) - Menyambut Hari Bumi, 22 April, Wahana Lingkungan
Hidup (WALHI) serukan "Jeda Tebang" untuk menghentikan sementara eksplorasi
dan penggundulan hutan yang membawa bencana ekologis bagi Indonesia.

"Hutan di Indonesia berada pada titik kritis karena deforestrasi tak pernah
sungguh-sungguh diatasi dengan benar oleh negara," kata Direktur Eksekutif
Nasional WALHI, Chalid Muhammad, di Jakarta, Jumat.

Chalid mengungkapkan jeda tebang adalah menghentikan sejenak aktivitas
penebangan dan konversi hutan dengan tujuan mengambil jarak dari masalah
agar di[eroleh jalan keluar yang bersifat jangka panjang dan permanen.

Berdasarkan data WALHI, pada 2006 tercatat laju kerusakan hutan kepulauan
nusantara mencapai 2,72 hektar. Tingginya angka konsumsi kayu, kertas, dan
sawit di Eropa, India, dan Cina juga mendorong terjadinya konversi hutan
menjadi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri.

"WALHI mencatat lebih dari 65 persen berbagai produk hutan di ekspor ke
berbagai negara. Mendorong lebih dari 28 juta hektar di konversi dan
dialokasikan bagi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri,"
ujarnya lagi.

Chalid mengatakan jeda tebang dilaksanakan selama paling sedikit 15 tahun.
Kurun waktu tersebut, lanjutnya, cukup untuk memperbaiki seluruh tata kelola
dan kebijakan yang selama ini tumpang tindih yang seringkali berakhir dengan
penyelesaian masalah di lapangan.

"Jeda tebang adalah pilihan yang paling masuk akal, sebab kerusakan hutan
alam di Indonesia tercatat 2,72 hektar per tahun, dengan eksplorasi
besar-besaran di berbagai wilayah Indonesia maka diperkirakan pada 2012
hutan alam di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi akan musnah," katanya.

Perkiraan tersebut, lanjutnya, didasarkan pada kenyataan bahwa cadangan
hutan produksi yang tersisa masih memiliki tutupan baik seluas 41,25 juta
hektar, pasokan bahan baku kayu dari hutan tanaman indsutri hanya sanggup
memenuhi kebutuhan industri pulp, dan melihat bahwa biofuel akan memicu
percepatan pelepasan kawasan untuk perkebunan kelapa sawit.

Disinggung soal program percepatan pembanguna Hutan Tanaman Rakyat, Chalid
mengakui hal itu dapat menekan angka penebangan. Namun demikian bila HTR
dibangun pada 2008 maka hasilnya baru akan diperoleh pada 2016 saat dimana
hutan alam di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi telah punah mengikuti jejak
hutan alam di Jawa.

Sementara itu pemerintah, ujarnya, selalu menafikkan tiga maslah mendasar di
sektor kehutanan yakni tidak adanya pengakuan terhadap hak rakyat dalam
pengelolaan hutan, korupsi, dan besarnya kesenjangan antara pasokan dan
permintaan.

"WALHI juga mencatat sekitar 500 peraturan di sektor kehutanan juga tumpang
tindih sehingga akhirnya berbagai konflik diselesaikan di lapangan,
kebijakan-kebijakan yang membingungkan dan tata kelola yang tidak menyentuh
substansi masalah mendorong Indonesia dalam siklus bencana ekologis yang
kronis. Disinilah dibutuhkan jeda tebang," tambahnya.

Peringatan Hari Bumi yang di gelar WALHI akan di gelar di Bunderan Hotel
Indoensia pada Minggu (22/4) dengan tema "Selamatkan Hutan dnegan Tanganmu,
Jeda Tebang Sekarang". Aksi simpatik ini rencananya akan diikuti sahabat
WALHI dari seluruh Indonesia dan amsyarakat Jakarta.

Aksi itu akan diikuti Jambore Nasional Sahabat WALHI 2007 yang berlangsung
Senin (23/4) di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan. Pembukaan jambore
itu rencananya akan dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa
Dault
.(*)

Hutan Indonesia Adalah Udara Untuk Bumi Bernafas

Melbourne (ANTARA News) - Keberadaan hutan tropis di Indonesia kian mendapat
perhatian dari berbagai pihak di dunia internasional, terutama bila hal itu
dikaitkan dengan perubahan iklim.

Menteri Lingkungan Hidup Australia Malcolm Turnbull di Melbourne, Rabu ,
misalnya, menyatakan bahwa menjaga kelangsungan hutan Indonesia adalah sama
dengan mempertahankan ruang udara untuk Bumi agar bisa bernafas.

Dalam sesi pagi Konferensi Internasional Jurnalis Sains, Turnbull kembali
menegaskan pentingnya dunia, secara bekerja sama, menjaga hutan Indonesia
dari tindakan pembalakan, pembukaan lahan secara ilegal, dan kebakaran.

Pada tahun 2007 ini, ujar Turnbull, Pemerintah Australia telah menganggarkan
dana sekitar 200 juta dolar Australia untuk program bantuan kehutanan
negara-negara berkembang.

Dari dana tersebut, Indonesia merupakan negara yang menerima bantuan paling
banyak, tambahnya.

Turnbull mengaku pihaknya sempat kecewa dengan hasil dana bantuan yang
diberikan negara donor untuk program kehutanan Indonesia, yang ternyata pada
tahun 1990-an justru menghasilkan hutan lebih banyak lenyap.

Akan tetapi sekarang Australia cukup terkesan dengan pemerintahan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono, yang memerangi pembalakan liar, ujar dia.

Menurut Turnbull, program reforestasi adalah langkah yang jauh lebih efektif
menghadapi fenomena perubahan iklim karena hutan memberikan kesempatan bumi
untuk bernapas.

Walau demikian, Australia juga memandang pendekatan teknologi bahan bakar
batu bara bersih juga sangat perlu dicarikan formulanya.

Ia mengatakan, tahun ini Australia menjalin kerja sama dengan pemerintah
China untuk mengembangkan teknologi batu bara bersih dengan alokasi dana
mencapai 100 juta dolar.

Sementara pendekatan yang diterapkan di dalam negeri Australia sendiri
adalah dengan memaksimalkan efisiensi teknologi dan baru bara bersih.

Sebagai benua terkering di dunia, Australia mengalami dampak perubahan iklim
yang sangat ekstrim.

Persoalan utama yang dirasakan Australia adalah merosotnya persediaan air
sehingga Pemerintah Canberra, dan semua negara bagian, sangat berkepentingan
atas program pasokan air bersih.(*)

Potret Sekolah Hijau di Jantung Kota Kendari

on Monday, April 9, 2007



Apa yang dilakukan NP Dahlan, dalam menciptakan lingkungan hijau dan sehat patut dicontoh. Meski sekolah yang dipimpinnya tak pernah dilibatkan dalam lomba sekolah hijau yang sering diselenggarakan pemerintah, namun tak menyurutkan niatnya untuk menata lingkungan sekolah milik Yayasan Kartika TNI Angkatan Darat itu, sehingga memberi kenyaman dalam proses belajar mengajar.

Oleh : Marwan Azis,

Siang itu udara Kota Kendari terik sekali, meski matahari mulai condong ke barat, hawanya sangat terasa di kulit saat itu sudah menunjukan pukul 13.00 Wita. Jam sekolah berdering tanda pergantian masuk sekolah, anak-anak berseragam putih biru berlarian turun dari kendaraan angkot (angkutan kota) yang membawa mereka dari rumah masing-masing, buru-buru jalan menuju rimbunan pohon yang tertata rapi di halaman sekolah, sementara itu ribuan siswa-siswi berseragam putih abuabu, berderetan keluar pagar sekolah menuju jalan raya untuk kembali ke rumah mereka.

Hari itu anak-anak dari sekolah yang berada tepat dikaki bukit Taman Hutan Raya (Tahura) Murhum, akan memulai ulangan harian. Ratusan murid dari SMP Kartika Kendari, sejenak tampak seperti semut berkeruman di halaman sekolah, sinar surya yang keluar dari selah-selah rimbunnya daun pohon cendana dan ketapang yang menaungi halaman sekolah menambah asiknya suasana belajar mereka. Di dalam kelas meski tak tersedia kipas angin atau AC, tapi serasa berada di sebuah rungan full AC.

Kondisi damai, nyaman nan asri itu, berlangsung sudah sejak lama, sejak sepuluh bahkan belasan tahun lalu. Seiring dibangunnya sarana pendidikan di Jantung Kota Kendari itu.

Sekolah yang dikenal luas masyarakat Kota Kendari ini sebagai sekolah pemegang teguh motto ”kedisiplinan kunci keberhasilan”itu, disana sini halaman sekolahnya banyak ditumbuhi pohon dengan ukuran mulai membesar namun tetap terjaga rapi dan tidak dibiarkan tinggi melampaui atap tertinggi sekolah.

Meski sekolah itu dipadati pohon namun tidak ditemukan selembar pun daun yang terjatuh dihalaman, sebab setiap hari anak-anak dari sekolah itu sebelum memulai pelajaran diwajibkan untuk melakukan pembersihan (memungut) daun yang berguguran. Setelah bersih barulah mereka dipersilakan masuk kelas.

Meja, dinding dan batang pohon tidak ada coretan-coretan ballpoint atau luka sayatan, sebab sanksi yang diterapkan di sekolah itu bagi yang ketahuan melakukan perusakan, cukup berat. Sehingga suasana asri nan hijau bagai berada di taman alam itu tetap dapat dipertahankan meski umur sekolah itu sudah uzur."Dimanapun saja kita berada jika kita melakukan dengan hati, kita pasti berhasil, seperti di sini sejak dulu hingga saat sekarang tempat ini tetap rindang dengan pepohonan, hijau, nyaman, sejuk. Ini sesuatu yang sudah dilupakan dunia pendidikan kita saat ini," jelas Drs NP Dahlan, Kepala Sekolah SMP-SMA Kartika Kendari dikenal kritis ini.

Pria yang sudah banyak makan asam garam pengalaman hidup ini, menceritakan, kondisi sekolah yang dipimpinnya itu. Tahun 1986 lalu katanya, tempat itu termasuk daerah yang kering dan hanya ditumbuhi beberapa pohon, seiring didirikannya sekolah itu, pihak sekolah mulai melakukan penataan dengan konsep, "sekolah hijau sekolah sehat". Motto ini terus dipegang sekolah yang sudah berumur 21 tahun itu.

Ia sendiri mulai mengajar di sekolah itu sejak 1987 lalu, sebelumnya dia menjadi tenaga pengajar di Unhol (Nama Universitas Haluoleo (Unhalu) dulu) di jurusan Sosial dan Politik (Sospol). tahun 1992 pihak yayasan menunjuknya menjadi penanggung jawab di sekolah itu hingga sekarang. Latar belakang pendidikannya adalah tamatan Lembaga Administrasi Negara (LAN) di salah satu Universitas di Jakarta, jurusan manajemen.

Pengalamannya aktif diberbagai kegiatan lingkungan semisal pramuka dan dunia pecinta alam (Mapala) dikala Dahlan muda masih menuntut ilmu, menjadi inspirasi untuk menata sekolah yang terbilang tanah tandus itu, menjadi sekolah hijau dengan beragam jenis pohon-pohonan keras namun tak lupa menanaminya dengan berbagai jenis tanaman bunga yang tersusun rapi dan ditanam dalam pot. Berkat kegigihannya sekolah itu berkembang menjadi sekolah satu-satunya berpanorama alam ditengah hiruk pikuknya kehidupan Kota Kendari. Inilah pula yang mendorong sejumlah orang tua memasukan anaknya untuk sekolah di SMP-SMA Kartika.

Berdasarkan data dari sekolah itu tiap tahunnya sekolah swasta terkemuka di Kota Kendari ini, menerima ratusan siswa baru, baik SMP maupun SMA. Dimana saat ini sekolah yang berada di Jalan Sam Ratulangi, Kelurahan Kemaraya, Kecamatan Kendari Barat ini siswanya mencapai 1500 orang.

Sistem pembelajarannya antara SMP dan SMA diatur sangat rapi, SMA masuk di pagi hari sedangkan SMP-nya masuk siang hari. Sehingga meski kapasitas sekolah ini hanya punya 23 ruang kelas belajar (RKB) namun siswa tak pernah mengeluh kekurangan ruang belajar, padahal bila ditotal antara murid dengan jumlah kelas dimana ditempati maksimal perkelasnya 40 siswa, sangat tidak memungkinkan. Tapi itulah yang dirasakan di sekolah itu.

Bangunan yang didirikan diatas tanah sekitar dua hektar persegi ini, selain dihalamannya ditanami pohon pelindung, cendana, ketapang, dan pinang, juga terdapat sebuah kebun mini yang ditanami pohon buah-buahan, misal pisang, mangga dan lainnya. Serta dilengkapi dengan pondok belajar dibangun disela-sela pohon-pohonan yang berfungsi sebagai tempat membaca buku-buku pelajaran yang dipinjam diperpustakaan dan juga sebagai arael diskusi siswa sekaligus sebagai tempat istrahat.

Pemilihan jenis pohon cendana, ketapang dan pinang, karena masing-masing pohon memiliki keunggulan kata Dahlan. Misalnya cendana dipilih karena canopi (daerah penutupannya luas) serta dia hanya menggugurkan daunnya sekali setahun selanjutnya hijau terus sehingga tak menyulitkan untuk dilakukan pembersihan dan perawatan.

Begitu juga dengan pohon ketapang. Selain daerah penutupannya luas daunnya lebar-lebar sehingga juga memudahkan untuk dibersihkan. ”Kita tinggal menugasi dua orang siswa memungut daun-daun yang jatuh sudah bersih,”kata Dahlan. Sementara pinang dipilih karena dia memiliki nilai ekonomis, baik dari buahnya maupun dari batangnya.

Lalu bagaimana keterlibatan siswa? Menurut Dahlan, sejak awal siswa baik SMP maupun SMA telah dilibatkan dalam menciptakan sekolah yang rindah dan hijau.”Pohon-pohon yang ada disini sebagian berasal dari siswa dan sebagian lagi merupakan swadaya sekolah,”paparnya.

Selain itu, pihak sekolah juga melibatkan siswa dalam penanganan kebersihan dan kelestarian pohon dipercayakan sepenuhnya pada siswa.”Kalau ada anak-anak (siswa red) yang merusak pohon, ancamannya kami berikan sanksi pada siswa bersangkutan bahkan kalau sampai betul-betul mematikan pohon, maka kami diberi skorsing,”ungkapnya.

Namun hingga saat ini belum ada satupun siswa yang dijatuhi sanksi karena merusak pohon.”Mereka paham betul, bahwa pohon itu sangat membantu artinya siswa sangat menyadari betul dengan memelihara pohon maka akan menciptakan lingkungan hijau, nyaman, sehat dan tentunya indah sehingga membuat warga sekolah beta belajar disekolah,”tuturnya.

Selain itu, pihak sekolah juga senantiasa memberikan motivasi pada siswa agar siswa ikut berperan dalam menciptakan lingkungan yang indah dan bersih.”Selain sanksi, kami juga memberikan motivasi dan pemahaman bahwa sesungguhnya ukuran manusia rasional harus bisa mampu memahami bahwa alam ini adalah anugerah. Jadi kita harus jaga, kelola ciptaan Tuhan ini termasuk berbagai jenis tumbuhan yang terdapat didalamnya,”paparnya.

Saat ditanya apakah keinginan menciptakan lingkungan sekolah yang hijau karena terdorong program pemerintah?. Dahlan mengelak, karena setahunya Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kota Kendari, tidak pernah menyeruhkan untuk menghijauhkan sekolah, yang ada hanya lomba penghijauan, setelah selesai lomba sisanya tumbuh atau tidak diketahui, dibiarkan terlantar."Kami disini tidak pernah dilibatkan lomba, namun demikian kami terdorong berdasarkan kesadaran dan kebutuhan sendiri bahwa dengan lingkungan hijau, tertata, dan teratur pastilah menyenangkan akhirnya sekolah ini menjadi sekolah hijau,”tandasnya.

Hal tersebut juga diamini oleh beberapa pengurus Organisasi Intra Sekolah (OSIS) SMA Kartika. ”Kami sangat mendukung program yang ditelurkan Bapak kepala sekolah, karena ini sangat bermanfaat dalam mendukung proses belajar mengajar. Apalagi kami diberikan tanggung jawab penuh dalam hal kebersihan sekolah, sehingga kita cukup aktif mendorong teman-teman siswa disini untuk tetap menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah,”kata Herdiyanti.

Pernyataan senada juga diungkapkan Roni Sianturi yang menjabat sebagai Wakil Ketua OSISI SMA Kartika.” Di OSIS SMA Kartika ada satu bidang yang khusus menangani lingkungan hidup yang selama ini aktif memberikan penyuluhan pada semua kelas. Selain itu jika ada siswa yang kedapatan merusak pohon yang ada dilingkungan sekolah, maka akan diberikan sanksi,”ujarnya. Yuk mari ciptakan Sekolah Hijau.***


Bird Watching/Pengamatan Burung

on Thursday, April 5, 2007



Bird Watching/ Pengamatan burung adalah kegiatan pengamatan burung langsung di alam bebas. Kegiatan ini akan menimbulkan kepuasan yang tak terhingga bagi yang mengikutinya karena dapat melihat lansung berbagai jenis burung berserta tingkah laku alaminya yang tidak akan kita temui pada burung-burung yang dikurung dikandang. Kepuasan anda akan makin sempurna apabila dengan fasilitas buku panduan dan binokuler anda dapat mengidentifkasi sendiri burung yang anda temui.

Ada puluhan jenis burung yang hidup di sekitar P-WEC, antara lain Elang Hitam, Gelatik, Pelatuk, Sepah Hutan, Elang Ular, dsb. P-WEC menyediakan pemandu dan peralatan bird watching, siap menemani anda menikmati keindahan burung di alam. Lokasi pengamatan bukan hanya di kawasan P-WEC, namun bisa juga di Pegunungan Kawi yang berada di sebelah barat kawasan P-WEC. Lamanya kegiatan 1 � 3 hari.(Profauna)

Kegiatan ini bisa diukiti oleh siapa saja yang tertarik seperti pelajar, mahasiswa atau umum

Menengok Penetasan Maleo di TNBNW- Gorontalo


Menengok penetasan burung maleo di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) Gorontalo. Satwa endemik Sulawesi itu saat ini tengah menghadapi ancaman cukup serius.

Oleh: Marwan,

“En tre ren ren eeeen”. Seketika bunyi mesin Bentor (Bencak Motor) itu berhenti, sebelum mencapai kaki gunung Taman Nasional Bogani Nani Wartabone tepatnya di Desa Tulabelo, Kondisi. Jalan terjal, rusak, dan tak beraspal tak mampu dilaluinya. Kami pun terpaksa menggunakan jasa ojek. Cukup keluar kocek lima ribu kami sampai tujuan.



Butuh waktu dua jam dari Kota Gorontalo menuju TNBNW setelah menempuh jarak 20 kilometer. Dalam perjalanan terlihat warga tengah memasak gula merah dari aren. Pohon aren banyak dijumpai di TNBNW. Disisi sepanjang sungai, puluhan warga sibuk mencuci rotan.



Sementara para penambang liar sibuk mengangkut amplas (bahan untuk mencuci emas) dengan menggunakan motor, lokasi tambang emas itu konon berada di areal Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Menurut informasi yang diperoleh, pihak PT Freepoot sudah pernah melakukan studi indetifikasi potensi tambang emas. Namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya, begitu juga dengan pihak pemerintah belum memanfaatkan potensi sumber daya alam tersebut. Akibatnya masyarakat setempat mencoba memanfaatkan situasi tersebut dan menjadi penambang liar.



Tak kurang dari sekitar 30 menit naik ojek melewati jalan terjal, akhirnya kami sampai di pintu masuk taman nasional. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju daerah penangkaran burung maleo.



Tempat penangkaran burung maleo (Macrocephalon) berada di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, tepatnya di Kabupaten Bone Bonlango. Seluruh kawasan TNBNW masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Bone Bonlango dan Gorontalo Utara serta Kabupaten Bolamangodo Sulawesi Utara dengan luas 287.115 hektar.




Taman nasional Bogani Nani Wartabone yang semula bernama Taman Nasional Dumoga Bone ditetapkan sebagai taman nasional oleh Menteri Kehutanan tahun 1990 dengan luas 287.115 hektar. Penetapan taman nasional ini tak lepas karena potensi kekayaan hayatinya yang cukup tinggi bahkan beberapa satwa endemik Sulawesi ditemukan disana seperti anoa dan burung maleo.



Taman Nasional ini memiliki keanekaragaman hayati fauna dengan tingkat keendemikan yang tinggi, burung-burung yang beranekaragam diperkirakan tak kurang dari 125 jenis. Antara lain merpati, paruh bengkok, rajaudang, rangkong, burung maleo dan beberapa jenis burung lautnya.



Selain itu, satwa lainnya yang juga ditemukan disini diantaranya, anoa besar, babi rusa, tarsius, kuskus dan berbagai jenis reftil. Sedangkan jenis flora dominan seperti jenis-jenis ficus antara lain piper adundum, trema orientalis, macaranga sp, kayu manis (arcagelisia flava), palem matayangan (pholidocarpusilur), cempaka, kenangan, agathis, kayu hitam, kayu besi dan lain-lain.



Sayangnya areal taman nasional yang menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna edemik Sulawesi itu semakin hari kian menyusut. Sepanjang jalan terlihat beberapa areal taman nasional yang telah dikapling masyarakat, ada yang sengaja dibakar lalu dikonversi menjadi lahan bercocok tanam. Mereka menanami lahan tersebut dengan tanaman ”Jagung”. Komoditas pertanian yang saat ini menjadi primadona daerah yang dipimpin Fadel Muhammad itu. Penambahan arael penanaman jagung tanpa kendali bukan tidak mungkin akan mengancam rumah satwa dan flora yang mendiami Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.



Kami juga sempat mendapati sebuah rumah beralas bambu dan beratap rumbia berdinding bambu dan papan yang hampir rubuh yang hanya dihuni satu keluarga. Di sana kami sempat beristrihat sejenak untuk menghilangkan lelah, sambil menunguk air mineral yang kami sengaja bawa.



Setelah melewati rumah itu, udara segar mulai terasa. Kesegaran tersebut tak lepas dari keberadaan rimbunan hutan yang kaya akan berbagai keanegarama hayati.



Jalan setapak yang penuh tanjakan tebing dan berbukit kami lewati ditengah hijauan pohon-pohonan dan remput-rerumputan yang menghijau, kicuan berbagai jenis burung tak mau ketinggalan menyapa kami sepanjang jalan dan seakan memecah keheningan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.



Sementara tupai dengan suara merdunya seakan menyapa kami, sambil mempertontonkan kelincahannya melompat dan memanjak pohon yang menjulang tinggi. Demikian halnya dengan jangkrik pohon, suaranya yang terus menerus mengiringi langkah kami menyusuri Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.



Di balik rimbunan hutan, ternyata taman nasional yang menjadi kebanggaan masyarakat Gorontalo itu juga menjadi sumber air sungai Bone yang mengitari Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Tak hanya itu, taman nasional yang menjadi simbol kepahlawanan Bogani Nani Wartabone itu, juga memiliki dua air terjung berlokasi di Lambango, saat ini telah dimanfaatkan sebagai areal wisata yang kerap dikunjungi oleh para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Sayangnya kami tak memiliki banyak waktu untuk berkunjung ke tempat air terjung terjung tersebut.



Menurut aktivis Wild Life Conservation Secoiety (WCS), Usman yang juga mendampingi kami, lebar sungai Bone cukup bervariasi ada mencapai 30, 40 hingga 50 meter lebih. Sungai Bone merupakan induk dari beberasa anak sungai di Gorontalo.”Sungai ini airnya bersumber dari hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone,”kata Usman asisten program Wild Life Conservation Secoiety (WCS), sebuah LSM yang bergerak dalam pelestarian hidupan liar.



Seraya menambahkan, jika taman nasional di rusak maka debit air sungai Bone akan berkurang otomatis akan menganggu kehidupan masyarakat Gorontalo, karena keberadaan air sungai Bone bagi warga Gorontalo terutama yang berdomisili di sekitar taman nasional dijadikan sebagai sumber air minum serta mengairi persawahan mereka.



Selain itu, sungai Bone juga dipakai sebagai transportasi untuk mengangkut rotan yang berasal dari TNBNW selanjutnya dibawa ke perkampungan melalui jalur sungai. Usaha rotan menjadi salah satu alternative warga yang berdomisili di sekitar Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Pemerintah Daerah Gorontalo saat ini tengah berupaya memanfaatkan sungai tersebut sumber energi listrik tenaga air (PLTA) untuk membantu kekurangan energi listrik yang belakangan ini melanda Sulawesi tak terkecuali Provinsi Gorontalo.



Sungai Bone Berkah Bagi Maleo

Keberadaan sungai Bone yang membelah Tanaman Nasional Bogani Nani Wartabone, tak hanya dirasakan manfaatnya bagi masyarakat Gorontalo, tapi menjadi berkah bagi satwa penguni taman nasional, juga menjadi sungai tersebut sebagai sumber air minum. Bahkan kawanan burung maleo memilih lokasi pinggir sungai Bone sebagai tempat bertelur hingga menetaskan telurnya.



Disana ada ratusan lubang senjaga mereka gali untuk menyimpan telur. Menurut Usman, kedalaman lubang cukup bervariasi.”Biasanya antara 30 hingga 50 cm,”tandas Usman.
Di alam bebas, setelah maleo betina meletakkan telurnya di dalam lubang, kedua induk secara bergantian atau bersamaan (jantan dan betina) akan menimbun telur-telur itu. Jumlah telurnya 8-12 butir. Untuk mengelabui pemangsa, mereka membuat timbunan tipuan. Dalam setahun, sepasang maleo bisa bertelur 6-8 kali.



Setelah beberapa langkah, akhirnya kami menginjak kaki di lokasi penetasan telur burung maleo, kami sempat menyaksikan satu induk burung maleo yang sementara bertelur. Ukuran tubuh induk maleo tampak sedikit lebih besar dari ayam dewasa, ia juga memiliki tonjolan di atas kepala (seperti konde) dan konon berkat tonjolannya tersebut maleo dapat mendeteksi panas bumi untuk menetaskan telurnya.



Yos yang juga kontributor salah satu teve swasta nasional itu, sempat mengabdikan gambar induk burung maleo itu saat bertengger di ranting pohon. Tak lama kemudian induk maleo itu terbang meninggal kami.



Selanjutnya Usman meminta kami berhenti sejenak.”Tunggu dulu yah, disini. Saya pergi dulu liat ditempat penetasan, mudah-mudahan ada yang menetas,”.pintah Usman seraya melangkahkan kakinya melewati semak belukar dan rimbunan pohon bambu menuju tempat penetasan. Di lokasi tersebut kita juga bisa menikmati panorama kars yang mungil namun cantik yang diujungnya mengeluarkan tetesan air.



Tak lama kemudian, Usman datang memberi kabar gembira. ”Kedatangan kalian disini sepertinya cukup beruntung, karena disamping tadi sempat menyaksikan induk burung maleo. Alhmadullliah beberapa saat lalu, ada telur maleo yang menetas dan beberapa butir telur maleo juga baru saja ditemukan oleh staf kami. Mari kita pergi liat,”ujarnya.



Setelah berjalan tak kurang dari seratus meter, akhirnya kami sampai pada tempat penetasan telur burung maleo yang disebut hatchery yang dibangun WCS. Di dalam hatchery itu kami melihat satu orang staf bernama Hayun yang begitu sabar mendata telur-telur maleo yang akan ditetaskan.



Petugas pencatat maleo di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone boleh dibilang sangat sedikit, setidaknya WCS hanya memiliki empat orang pencatat telur, mereka secara bergantian bertugas dengan jangka waktu pergantian atau roling selama sebulan sekali.




Lokasi yang begitu jauh kerimbah taman nasional dengan upah yang cukup minim, membuat banyak petugas yang tak betah. Tapi tidak bagi Hayun meski sempat terpengaruh untuk berhenti namun akhirnya ia tetap memilih tetap setia dengan profesinya itu.



Hayun mengaku sangat senang menjalani profesinya sebagai penangkar telur maleo, meskipun harus berjalan kaki dengan menempuh perjalanan sekitar 6 kilometer pulang pergi perhari..”Saya sangat bahagia bisa membantu pelesatarian burung maleo di sini,”ujarnya semangat.



Waktu kami berkunjung kesana, pria paruh baya itu dengan ramah menyambut kami, meski hanya menggunakan celana puntung tampak usang tanpa menggenakan baju. Kami pun masuk ke dalam hatchery itu dengan hati-hati agar tidak sampai menginjak telur maleo yang baru saja ditanam, di depan Hayun terlihat beberapa butir telur yang baru saja ditemukan, sementara dipojok kiri ruang hatchery, kami melihat anak burung maleo yang baru saja menetas.



Lucu dan imut, itulah kesan pertama yang kami tangkap saat melihat anak maleo yang baru menetas. Namun hal yang lebih mengesankan dan membuat saya dan Yos terkagum-kagum adalah saat melihat proses si anak maleo keluar dari dalam tanah setelah melewati masa pengeraman. ”Senang banget, akhirnya saya bisa melihat maleo secara langsung,”kata Yos.
Rasa kagum itu semakin bertambah begitu melihat si anak maleo yang baru saja mencapai permukaan tanah tersebut ternyata sudah bisa terbang. Tak seperti layaknya anak unggas pada umumnya yang butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa terbang. Itulah salah satu keistimewaan anak maleo.



Untungnya, anak maleo itu masih berada di dalam hatchery. Selanjutnya anak maleo itu kami bawa keluar hatchery. Setelah puas mengambil gambar dan berpose dengan si anak maleo tersebut. Kami pun sepakat untuk melepasnya di alam bebas. Meski udah dilepas, namun, anak maleo itu sepertinya masih mau mempertontonkan kelucuannya dan keistimewaannya ke kami, dan tak beberapa lama kemudian anak meleo itu terbang meninggal kami dan melewati pepohonan di sekitar kandang penangkaran.



Dibalik istimewaannya, anak maleo ternyata memikul beban yang begitu berat setelah ditetaskan. Tanpa kehadiran sang induk saat matanya pertama kali melihat dunia ini, tanpa bimbingan sang induk untuk mencari makan dan terbang, tanpa perlindungan sang induk di saat bahaya menghampiri, bahkan, untuk keluar dari cangkang dan muncul ke permukaan bumi ini pun mereka harus berjuang sendiri.



Tak jarang diantara mereka dijumpai mati saat dalam perjalanan mencapai permukaan tanah, bahkan mereka kadang dijumpai dengan kepala yang sudah nongol di permukaan tanah, tapi sudah mati dikerumuni semut. Terkadang pula mereka dijumpai berhasil mencapai permukaan tanah namun sudah tanpa kepala di badan.



Paling tidak, begitulah sedikit cerita miris perjuangan yang harus dilalui oleh anak maleo saat mulai menghirup udara pertama di dunia. Belum lagi tangan-tangan jahil yang siap menanti di luar sana di tambah dengan ganasnya hidupan di muka bumi.



Sementara Usman menceritakan proses maleo bertelur hingga menetas. Di katakan di alam bebas induk burung maleo menetaskan setelah maleo betina meletakkan telurnya di dalam lubang, maka secara bergantian atau bersamaan kedua induk maleo (jantan dan betina red) menimbun telur tersebut dan kemudian membuat timbunan tipuan (untuk mengelabui pemangsa).



Berbeda dengan jenis-jenis unggas lainnya, maleo tidak mengerami telurnya. Pengeraman telur dibantu oleh panas bumi atau panas dari sinar matahari.



Keberhasilan penetasan akan sangat bergantung pada temperatur atau suhu tanah. Hasil riset menginformasikan bahwa suhu atau temperatur tanah yang diperlukan untuk menetaskan telur maleo berkisar antara 32-35 derajat celsius.
Lama pengeraman pun membutuhkan waktu sekitar 62-85 hari. Namun pernah juga tercatat ada telur yang menetas kurang atau malah lebih dari kisaran waktu tersebut.



Saat waktunya tiba, telur pun retak dan anak maleo akan keluar. Anak maleo yang baru menetas harus keluar sendiri ke permukaan tanah tanpa bantuan sang induk.



Perjuangan untuk mencapai permukaan tanah akan membutuhkan waktu selama kurang lebih 48 jam. Itupun akan tergantung pada jenis tanahnya. Sehingga tak jarang beberapa anak maleo dijumpai mati. Tanah terlalu padat, akar pohon yang terlalu rapat, lubang yang digali terlalu dalam diduga menjadi faktor penyebab si anak maleo kehilangan banyak energi dan mengalami kelelahan hingga berakibat kematian.



Lolos dari perjuangan panjang di dalam tanah, bahaya lain pun sudah menanti. Bulu piyikan maleo masih berbau amis telur menarik perhatian semut. Anak maleo yang masih terhimpit tanah terhimpit tanah tanpa ampun digerogoti segerombolan semut.



Perjuangan sianak maleo belum berhenti disitu. Di luar sana masih banyak bahaya menanti sejumlah predator seperti tikus, biawak, elang, ular dan manusia, siap menghadang.
Biawak. Hewan yang satu ini adalah pemangsa utama bagi hewan peliharaan seperti ayam, begitu pula dengan maleo. Biawak adalah musuh utama bagi maleo. Selain mereka memangsa anak maleo, mereka pun adalah predator utama bagi telur maleo (selain manusia). Karena kemampuan penciuman mereka yang sangat tajam sehingga dengan mudah mereka menemukan telur maleo yang sudah tertimbun tanah sekalipun.



Bahaya lainnya datang dari burung pemangsa seperti Elang. Lokasi peneluran maleo yang sebagian besar merupakan daerah terbuka, sangat memudahkan bagi burung elang untuk mengintai mangsanya. Anak maleo yang masih lemah pun menjadi sasaran empuk mereka. Belum lagi bahaya dari ular, bahkan manusia yang kadang mengabaikan kelestarian burung maleo.




Mengingat satwa endemik Sulawesi ini berada dalam ancaman kepenuhan pemerintah didukung oleh penggiat lingkungan telah mengeluarkan peraturan yang melarang perdagangan burung maleo.



Bahkan status burung ini sudah masuk dalam daftar hewan yang dilindungi CITES. Masuk dalam Apendis I. Artinya tidak boleh diperjualbelikan karena memang mulai langka. Di seantero dunia hanya ada di pulau Sulawesi. Sayangnya belum ada pelaku yang dijerat sehingga perburuhan burung maleo masih terus terjadi hingga kini.



Karena tingginya ancaman kepunahan burung maleo, WCS mengupayakan pelestarian burung maleo melalui penetasan buatan di hatchery (tempat penetasan) di Taman Nasional Bogani Nani Warta Bone Provinsi Gorontalo. Tentu dengan melibatkan masyarakat setempat.



Tagau Hindari Cendera

Ukuran hatchery yaitu 5x 3 meter, bahannya terbuat dari campuran semen pasir, krikil yang dicor untuk dijadikan alasnya, bagian tengah menggunakan dinding dengan ram besi dan bagian dalam menggunakan tagau, yang terbuat dari jaring nilong. Dengan adanya tangau, burung yang menetas tidak akan menabrak di dinding atau ram besi yang bisa bikin cedera.



Di tempat penangkaran telah disediahkan lubang-lubang penetasan telur , telur-telur itu ditanam di dalam dan diatur sedemikian rupa, setiap lubang diberi tanda atau kode untuk membedakan dan mengetahui mana telur yang baru dan telur yang akan menetas.



Jika umur telur sudah 100 hari maka dianggap tidak akan menetas, sehingga akan diganti dengan telur yang baru. Telur yang baru semuanya ditanam dalam lubang-lubang yang telah disiapkan, kapasitasnya bisa memuat 124 butir telur. Saat ini WCS telah memiliki hatchery liliana, bambu, dan tetraminus. Hatchery liliana yang menampung 70 butir telur, bambu isinya seratus lebih sedangkan tetraminus lagi kosong.



Proses mengeraman di hatchery tidak bedanya dengan proses penetasan di alam.”Jadi prilaku maleo di hatchey sama dengan tidak tingkah lakunya di alam liar,”jelas Usman, alumnus IKIP Gorontalo ini. Telur-telur di alam dipindahkan ke dalam hatchery, agar proses penetasan lancar dan gampang dikontrol.



Begitu menetas, piyikan bakal muncul kepermukaan tanah. Anak maleo itu lalu dikeluarkan dari hatchery. Beberapa saat ia masih celingkungan, kemudian terbang melewati pepohonan disekitar kandang penangkaran.



Lalu bagaimana tingkat keberhasilan perbandingan antara penetasan di alam dengan penetasan buatan?. Usman yang sudah bertahun-tahun mengeluti pelestarian burung maleo, mengaku sejauh ini belum pernah dilakukan studi keberhasilan tingkat perbandingan penetasan di alam dengan buatan.



Tetapi di alam tingkat ancaman cukup tinggi, seperti ancaman predator antara lain burung elang, anjing karena mobilitas dan aksesbilitas warga dari kampung Tulang Boki dengan kampung lainya sepanjang hari itu selalu ada. ”Mereka juga biasanya datang dengan banyak anjing dan singgah disini sehingga menganggu burung maleo yang lagi beraktivitas, baik yang sementara bertelur ataupun bisa mengali lubang bertelur. Anjing-anjing itu memakan telur burung maleo,”.ungkapnya.



Selain itu, warga yang berdomisili di sekitar taman nasional ini banyak beraktivitas mengambil rotan dan biasanya mereka singgah dan mengambil telur-telur burung maleo.”Ancaman-ancaman itu sangat menganggu penetasan di alam,”ujarnya.



Populasi burung liar berwarna hitam mengkilap itu saat ini, menurut perkiraan WCS hanya berkisar kurang dari 3.000 ekor yang mendiami Taman Nasional Bogani Nani Warta Bone Gorontalo.



Sementara Birdlife Indonesia memperkirakan, jumlah maleo di alam diperkirakan hanya berkisar 8.000 hingga 14.000 ekor. Namun jumlah itu terus menyusut seiring dengan rusaknya habitat dan tingginya kematian piyikan serta maraknya perburuhan liar.



”Tanpa pengawasan dan perlindungan yang memadai, bukan tidak mungkin burung endemik Sulawesi ini terancam punah dalam waktu dekat”.*











Memotret Burung di Alam Bebas


Warna-warni bulunya senantiasa menebar pesona. Itulah satwa burung. Bagi kalangan fotografer alam bebas, memotret satwa burung adalah suatu kesenangan tersendiri. Bisa juga sebagai pekerjaan yang menantang. Pasalnya, subjeknya bergerak. Bukan seperti memotret burung di dalam sangkar.

Memotret burung erat hubungannya dengan pemotretan satwa alam bebas (wildlife photography). Sehingga teknik yang digunakan tidak berbeda dengan memotret satwa lain. Memotret burung, berarti memotret di alam bebas. Dengan begitu, sudah barang tentu seorang fotografer harus melengkapi dirinya dengan perangkat fotografi pendukung. Apa sajakah?

Pemotretan burung perlu lensa tele dengan titik fokal 300mm, 400mm atau bahkan 600mm. Syukur-syukur bisa lebih panjang lagi. Selain lensa tele tentu diperlukan juga penggunaan tripod atau monopod, agar lensa kamera bisa diarahkan dengan mantap ke arah burung yang dibidik.

Umumnya fotografer alam bebas juga membawa lebih dari satu bodi kamera saat berburu. Selain untuk cadangan juga untuk mengurangi frekuensi penukaran lensa atau film. Namun sekarang ini kita tidak perlu bersusah-susah lagi seperti itu, sebab sudah ada kamera digital. Dengan kamera jenis ini masalah menyimpan gambar di kamera sudah tidak masalah lagi seperti halnya pada kamera film. Kamera format medium hanya untuk memotret pemandangan atau makro. Jarang mengambil wildlife dengan kamera medium format, karena perlu memakai lensa dua kali lebih panjang. Untuk reaksi cepat lebih baik dengan kamera 35 mm saja.

Beberapa peralatan khusus sering diperlukan juga untuk pemotretan wildfile. Seperti misalnya tenda penyamaran, jebakan pelepas rana, remote control atau sensor inframerah yang selalu dipakai fotografer luar negeri. Repotnya peralatan fotografi khusus alam bebas tidak tersedia di pasaran Indonesia. Meski punya banyak uang sekalipun belum tentu kita bisa membelinya. Makanya sering juga harus merekayasa alat sendiri, yang kadang perlu biaya dan konsentrasi lebih banyak. Kalau harus beli di luar negeri tentu sudah lain lagi ceritanya.

Sensitif Warna

Satwa burung ternyata sensitif terhadap warna. Karena itu pakaian juga harus diperhatikan. Jangan mengenakan baju yang berwarna meriah atau menyala. Pakailah stelan kecoklatan, hijau atau seperti Alain Compost yang selalu berhitam-hitam. Satwa terutama mamalia amat mudah terusik ketenteramannya. Termasuk juga oleh warna-warni yang mengganggu. Jadi kalau mau masuk hutan pakailah stelan yang cocok, seperti warna cokelat, hijau atau hitam. Janganlah pakai yang mencolok.

Untungnya burung tidaklah sepeka hewan mamalia. Umumnya mamalia macam badak atau harimau misalnya, amat mudah mendeteksi kehadiran manusia. Sehingga jarang dan sulit sekali untuk dijumpai. Sedangkan burung masih terhitung mudah terlihat atau diamati lewat lensa.

Cinta Alam

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memotret satwa termasuk juga burung adalah rasa cinta alam. Jadi fotografer perlu juga mencintai dan mengenali peri kehidupan unggas tersebut. Untuk itu ada baiknya jika fotografer menyempatkan diri melakukan observasi dan mengumpulkan informasi yang lengkap. Informasi itu bisa dikumpulkan dari penduduk setempat, membaca literatur atau menghubungi peneliti. Kumpulkan selengkap mungkin data tentang waktu, musim, jenis satwa, lokasi pemunculan satwa, dan kebiasaan satwa tersebut. Dari sana bisa disusun strategi pemotretan seperti peralatan, kepekaan film atau aksesori tambahan yang diperlukan.

Dengan data lengkap fotografer tidak kerepotan menggunakan peralatan. Karena biasanya fotografer tidak membawa semua peralatannya ke lokasi pemotretan. Hanya yang perlu saja dibawa sementara lainnya seperti batu baterai, tas kamera dan sebagiannya akan tinggal di basecamp. Informasi tentang burung itu sendiri juga perlu dikumpulkan selengkap mungkin. Terutama kebiasaan dan perilakunya seperti dari suara, makanan bahkan sangkarnya.

Setiap jenis burung punya perilaku dan kebiasaan yang berbeda sehingga amat menarik untuk diamati. Misalnya burung cendrawasih yang selalu berganti bulu secara teratur. Biasanya bulan Desember atau Januari mereka akan ganti bulu. Jadi kalau mau merekam keindahan warna bulu cendrawasih jangan ke Irian pada bulan Januari, karena biasanya bulu mereka belum nampak sempurna.

Faktor Cuaca

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kendala yang mungkin muncul pada saat pemotretan. Karena pemotretan dilakukan di luar ruang maka kendala yang mungkin dihadapi adalah tabiat alam itu sendiri. Faktor alam terutama cuaca amat menentukan pada pemotretan jenis ini.

Hasil maksimal pada pemotretan ini juga bergantung penuh pada waktu. Untuk hasil yang prima biasanya perlu waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Waktu yang panjang juga perlu penanganan tersendiri untuk mengatasinya. Agar kejenuhan senantiasa terhindari dan konsentrasi tetaplah prima.

Kendala lainnya adalah satwa itu sendiri sudah mulai punah, karena habitat mereka sudah dirusak manusia yang pada akhirnya sulit untuk menemukan burung itu, apalagi ingin memotretnya. Tidak heran jika pemotretan satwa, seperti burung tergolong sulit dilakukan pada masa sekarang ini.

Terkonsentrasi

Bagi yang ingin mengamati burung disarankan untuk pergi pagi atau sore hari. Selain cuacanya tidak terlalu panas burung pun biasanya sedang sangat aktif. Mulai dari yang berkicau, mencari makan ataupun berterbangan. Sehingga relatif lebih mudah menemukannya.

Mengamati atau memotret burung bisa dilakukan di mana saja. Tempat paling baik dan mudah tentu saja di sekitar rumah atau taman kota. Jika sudah bosan di sana, bisa datang ke pinggiran kota, kampung, tepian sungai atau tepi pantai. Paling baik jika mau ke luar masuk hutan, karena di sanalah tempat paling kaya akan burung. [Rony Simanjuntak]