
Menengok penetasan burung maleo di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) Gorontalo. Satwa endemik Sulawesi itu saat ini tengah menghadapi ancaman cukup serius.
Oleh: Marwan,
“En tre ren ren eeeen”. Seketika bunyi mesin Bentor (Bencak Motor) itu berhenti, sebelum mencapai kaki gunung Taman Nasional Bogani Nani Wartabone tepatnya di Desa Tulabelo, Kondisi. Jalan terjal, rusak, dan tak beraspal tak mampu dilaluinya. Kami pun terpaksa menggunakan jasa ojek. Cukup keluar kocek lima ribu kami sampai tujuan.
Butuh waktu dua jam dari Kota Gorontalo menuju TNBNW setelah menempuh jarak 20 kilometer. Dalam perjalanan terlihat warga tengah memasak gula merah dari aren. Pohon aren banyak dijumpai di TNBNW. Disisi sepanjang sungai, puluhan warga sibuk mencuci rotan.
Sementara para penambang liar sibuk mengangkut amplas (bahan untuk mencuci emas) dengan menggunakan motor, lokasi tambang emas itu konon berada di areal Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Menurut informasi yang diperoleh, pihak PT Freepoot sudah pernah melakukan studi indetifikasi potensi tambang emas. Namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya, begitu juga dengan pihak pemerintah belum memanfaatkan potensi sumber daya alam tersebut. Akibatnya masyarakat setempat mencoba memanfaatkan situasi tersebut dan menjadi penambang liar.
Tak kurang dari sekitar 30 menit naik ojek melewati jalan terjal, akhirnya kami sampai di pintu masuk taman nasional. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju daerah penangkaran burung maleo.
Tempat penangkaran burung maleo (Macrocephalon) berada di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, tepatnya di Kabupaten Bone Bonlango. Seluruh kawasan TNBNW masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Bone Bonlango dan Gorontalo Utara serta Kabupaten Bolamangodo Sulawesi Utara dengan luas 287.115 hektar.
Taman nasional Bogani Nani Wartabone yang semula bernama Taman Nasional Dumoga Bone ditetapkan sebagai taman nasional oleh Menteri Kehutanan tahun 1990 dengan luas 287.115 hektar. Penetapan taman nasional ini tak lepas karena potensi kekayaan hayatinya yang cukup tinggi bahkan beberapa satwa endemik Sulawesi ditemukan disana seperti anoa dan burung maleo.
Taman Nasional ini memiliki keanekaragaman hayati fauna dengan tingkat keendemikan yang tinggi, burung-burung yang beranekaragam diperkirakan tak kurang dari 125 jenis. Antara lain merpati, paruh bengkok, rajaudang, rangkong, burung maleo dan beberapa jenis burung lautnya.
Selain itu, satwa lainnya yang juga ditemukan disini diantaranya, anoa besar, babi rusa, tarsius, kuskus dan berbagai jenis reftil. Sedangkan jenis flora dominan seperti jenis-jenis ficus antara lain piper adundum, trema orientalis, macaranga sp, kayu manis (arcagelisia flava), palem matayangan (pholidocarpusilur), cempaka, kenangan, agathis, kayu hitam, kayu besi dan lain-lain.
Sayangnya areal taman nasional yang menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna edemik Sulawesi itu semakin hari kian menyusut. Sepanjang jalan terlihat beberapa areal taman nasional yang telah dikapling masyarakat, ada yang sengaja dibakar lalu dikonversi menjadi lahan bercocok tanam. Mereka menanami lahan tersebut dengan tanaman ”Jagung”. Komoditas pertanian yang saat ini menjadi primadona daerah yang dipimpin Fadel Muhammad itu. Penambahan arael penanaman jagung tanpa kendali bukan tidak mungkin akan mengancam rumah satwa dan flora yang mendiami Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
Kami juga sempat mendapati sebuah rumah beralas bambu dan beratap rumbia berdinding bambu dan papan yang hampir rubuh yang hanya dihuni satu keluarga. Di sana kami sempat beristrihat sejenak untuk menghilangkan lelah, sambil menunguk air mineral yang kami sengaja bawa.
Setelah melewati rumah itu, udara segar mulai terasa. Kesegaran tersebut tak lepas dari keberadaan rimbunan hutan yang kaya akan berbagai keanegarama hayati.
Jalan setapak yang penuh tanjakan tebing dan berbukit kami lewati ditengah hijauan pohon-pohonan dan remput-rerumputan yang menghijau, kicuan berbagai jenis burung tak mau ketinggalan menyapa kami sepanjang jalan dan seakan memecah keheningan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
Sementara tupai dengan suara merdunya seakan menyapa kami, sambil mempertontonkan kelincahannya melompat dan memanjak pohon yang menjulang tinggi. Demikian halnya dengan jangkrik pohon, suaranya yang terus menerus mengiringi langkah kami menyusuri Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
Di balik rimbunan hutan, ternyata taman nasional yang menjadi kebanggaan masyarakat Gorontalo itu juga menjadi sumber air sungai Bone yang mengitari Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Tak hanya itu, taman nasional yang menjadi simbol kepahlawanan Bogani Nani Wartabone itu, juga memiliki dua air terjung berlokasi di Lambango, saat ini telah dimanfaatkan sebagai areal wisata yang kerap dikunjungi oleh para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Sayangnya kami tak memiliki banyak waktu untuk berkunjung ke tempat air terjung terjung tersebut.
Menurut aktivis Wild Life Conservation Secoiety (WCS), Usman yang juga mendampingi kami, lebar sungai Bone cukup bervariasi ada mencapai 30, 40 hingga 50 meter lebih. Sungai Bone merupakan induk dari beberasa anak sungai di Gorontalo.”Sungai ini airnya bersumber dari hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone,”kata Usman asisten program Wild Life Conservation Secoiety (WCS), sebuah LSM yang bergerak dalam pelestarian hidupan liar.
Seraya menambahkan, jika taman nasional di rusak maka debit air sungai Bone akan berkurang otomatis akan menganggu kehidupan masyarakat Gorontalo, karena keberadaan air sungai Bone bagi warga Gorontalo terutama yang berdomisili di sekitar taman nasional dijadikan sebagai sumber air minum serta mengairi persawahan mereka.
Selain itu, sungai Bone juga dipakai sebagai transportasi untuk mengangkut rotan yang berasal dari TNBNW selanjutnya dibawa ke perkampungan melalui jalur sungai. Usaha rotan menjadi salah satu alternative warga yang berdomisili di sekitar Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Pemerintah Daerah Gorontalo saat ini tengah berupaya memanfaatkan sungai tersebut sumber energi listrik tenaga air (PLTA) untuk membantu kekurangan energi listrik yang belakangan ini melanda Sulawesi tak terkecuali Provinsi Gorontalo.
Sungai Bone Berkah Bagi Maleo
Keberadaan sungai Bone yang membelah Tanaman Nasional Bogani Nani Wartabone, tak hanya dirasakan manfaatnya bagi masyarakat Gorontalo, tapi menjadi berkah bagi satwa penguni taman nasional, juga menjadi sungai tersebut sebagai sumber air minum. Bahkan kawanan burung maleo memilih lokasi pinggir sungai Bone sebagai tempat bertelur hingga menetaskan telurnya.
Disana ada ratusan lubang senjaga mereka gali untuk menyimpan telur. Menurut Usman, kedalaman lubang cukup bervariasi.”Biasanya antara 30 hingga 50 cm,”tandas Usman.
Di alam bebas, setelah maleo betina meletakkan telurnya di dalam lubang, kedua induk secara bergantian atau bersamaan (jantan dan betina) akan menimbun telur-telur itu. Jumlah telurnya 8-12 butir. Untuk mengelabui pemangsa, mereka membuat timbunan tipuan. Dalam setahun, sepasang maleo bisa bertelur 6-8 kali.
Setelah beberapa langkah, akhirnya kami menginjak kaki di lokasi penetasan telur burung maleo, kami sempat menyaksikan satu induk burung maleo yang sementara bertelur. Ukuran tubuh induk maleo tampak sedikit lebih besar dari ayam dewasa, ia juga memiliki tonjolan di atas kepala (seperti konde) dan konon berkat tonjolannya tersebut maleo dapat mendeteksi panas bumi untuk menetaskan telurnya.
Yos yang juga kontributor salah satu teve swasta nasional itu, sempat mengabdikan gambar induk burung maleo itu saat bertengger di ranting pohon. Tak lama kemudian induk maleo itu terbang meninggal kami.
Selanjutnya Usman meminta kami berhenti sejenak.”Tunggu dulu yah, disini. Saya pergi dulu liat ditempat penetasan, mudah-mudahan ada yang menetas,”.pintah Usman seraya melangkahkan kakinya melewati semak belukar dan rimbunan pohon bambu menuju tempat penetasan. Di lokasi tersebut kita juga bisa menikmati panorama kars yang mungil namun cantik yang diujungnya mengeluarkan tetesan air.
Tak lama kemudian, Usman datang memberi kabar gembira. ”Kedatangan kalian disini sepertinya cukup beruntung, karena disamping tadi sempat menyaksikan induk burung maleo. Alhmadullliah beberapa saat lalu, ada telur maleo yang menetas dan beberapa butir telur maleo juga baru saja ditemukan oleh staf kami. Mari kita pergi liat,”ujarnya.
Setelah berjalan tak kurang dari seratus meter, akhirnya kami sampai pada tempat penetasan telur burung maleo yang disebut hatchery yang dibangun WCS. Di dalam hatchery itu kami melihat satu orang staf bernama Hayun yang begitu sabar mendata telur-telur maleo yang akan ditetaskan.
Petugas pencatat maleo di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone boleh dibilang sangat sedikit, setidaknya WCS hanya memiliki empat orang pencatat telur, mereka secara bergantian bertugas dengan jangka waktu pergantian atau roling selama sebulan sekali.
Lokasi yang begitu jauh kerimbah taman nasional dengan upah yang cukup minim, membuat banyak petugas yang tak betah. Tapi tidak bagi Hayun meski sempat terpengaruh untuk berhenti namun akhirnya ia tetap memilih tetap setia dengan profesinya itu.
Hayun mengaku sangat senang menjalani profesinya sebagai penangkar telur maleo, meskipun harus berjalan kaki dengan menempuh perjalanan sekitar 6 kilometer pulang pergi perhari..”Saya sangat bahagia bisa membantu pelesatarian burung maleo di sini,”ujarnya semangat.
Waktu kami berkunjung kesana, pria paruh baya itu dengan ramah menyambut kami, meski hanya menggunakan celana puntung tampak usang tanpa menggenakan baju. Kami pun masuk ke dalam hatchery itu dengan hati-hati agar tidak sampai menginjak telur maleo yang baru saja ditanam, di depan Hayun terlihat beberapa butir telur yang baru saja ditemukan, sementara dipojok kiri ruang hatchery, kami melihat anak burung maleo yang baru saja menetas.
Lucu dan imut, itulah kesan pertama yang kami tangkap saat melihat anak maleo yang baru menetas. Namun hal yang lebih mengesankan dan membuat saya dan Yos terkagum-kagum adalah saat melihat proses si anak maleo keluar dari dalam tanah setelah melewati masa pengeraman. ”Senang banget, akhirnya saya bisa melihat maleo secara langsung,”kata Yos.
Rasa kagum itu semakin bertambah begitu melihat si anak maleo yang baru saja mencapai permukaan tanah tersebut ternyata sudah bisa terbang. Tak seperti layaknya anak unggas pada umumnya yang butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa terbang. Itulah salah satu keistimewaan anak maleo.
Untungnya, anak maleo itu masih berada di dalam hatchery. Selanjutnya anak maleo itu kami bawa keluar hatchery. Setelah puas mengambil gambar dan berpose dengan si anak maleo tersebut. Kami pun sepakat untuk melepasnya di alam bebas. Meski udah dilepas, namun, anak maleo itu sepertinya masih mau mempertontonkan kelucuannya dan keistimewaannya ke kami, dan tak beberapa lama kemudian anak meleo itu terbang meninggal kami dan melewati pepohonan di sekitar kandang penangkaran.
Dibalik istimewaannya, anak maleo ternyata memikul beban yang begitu berat setelah ditetaskan. Tanpa kehadiran sang induk saat matanya pertama kali melihat dunia ini, tanpa bimbingan sang induk untuk mencari makan dan terbang, tanpa perlindungan sang induk di saat bahaya menghampiri, bahkan, untuk keluar dari cangkang dan muncul ke permukaan bumi ini pun mereka harus berjuang sendiri.
Tak jarang diantara mereka dijumpai mati saat dalam perjalanan mencapai permukaan tanah, bahkan mereka kadang dijumpai dengan kepala yang sudah nongol di permukaan tanah, tapi sudah mati dikerumuni semut. Terkadang pula mereka dijumpai berhasil mencapai permukaan tanah namun sudah tanpa kepala di badan.
Paling tidak, begitulah sedikit cerita miris perjuangan yang harus dilalui oleh anak maleo saat mulai menghirup udara pertama di dunia. Belum lagi tangan-tangan jahil yang siap menanti di luar sana di tambah dengan ganasnya hidupan di muka bumi.
Sementara Usman menceritakan proses maleo bertelur hingga menetas. Di katakan di alam bebas induk burung maleo menetaskan setelah maleo betina meletakkan telurnya di dalam lubang, maka secara bergantian atau bersamaan kedua induk maleo (jantan dan betina red) menimbun telur tersebut dan kemudian membuat timbunan tipuan (untuk mengelabui pemangsa).
Berbeda dengan jenis-jenis unggas lainnya, maleo tidak mengerami telurnya. Pengeraman telur dibantu oleh panas bumi atau panas dari sinar matahari.
Keberhasilan penetasan akan sangat bergantung pada temperatur atau suhu tanah. Hasil riset menginformasikan bahwa suhu atau temperatur tanah yang diperlukan untuk menetaskan telur maleo berkisar antara 32-35 derajat celsius.
Lama pengeraman pun membutuhkan waktu sekitar 62-85 hari. Namun pernah juga tercatat ada telur yang menetas kurang atau malah lebih dari kisaran waktu tersebut.
Saat waktunya tiba, telur pun retak dan anak maleo akan keluar. Anak maleo yang baru menetas harus keluar sendiri ke permukaan tanah tanpa bantuan sang induk.
Perjuangan untuk mencapai permukaan tanah akan membutuhkan waktu selama kurang lebih 48 jam. Itupun akan tergantung pada jenis tanahnya. Sehingga tak jarang beberapa anak maleo dijumpai mati. Tanah terlalu padat, akar pohon yang terlalu rapat, lubang yang digali terlalu dalam diduga menjadi faktor penyebab si anak maleo kehilangan banyak energi dan mengalami kelelahan hingga berakibat kematian.
Lolos dari perjuangan panjang di dalam tanah, bahaya lain pun sudah menanti. Bulu piyikan maleo masih berbau amis telur menarik perhatian semut. Anak maleo yang masih terhimpit tanah terhimpit tanah tanpa ampun digerogoti segerombolan semut.
Perjuangan sianak maleo belum berhenti disitu. Di luar sana masih banyak bahaya menanti sejumlah predator seperti tikus, biawak, elang, ular dan manusia, siap menghadang.
Biawak. Hewan yang satu ini adalah pemangsa utama bagi hewan peliharaan seperti ayam, begitu pula dengan maleo. Biawak adalah musuh utama bagi maleo. Selain mereka memangsa anak maleo, mereka pun adalah predator utama bagi telur maleo (selain manusia). Karena kemampuan penciuman mereka yang sangat tajam sehingga dengan mudah mereka menemukan telur maleo yang sudah tertimbun tanah sekalipun.
Bahaya lainnya datang dari burung pemangsa seperti Elang. Lokasi peneluran maleo yang sebagian besar merupakan daerah terbuka, sangat memudahkan bagi burung elang untuk mengintai mangsanya. Anak maleo yang masih lemah pun menjadi sasaran empuk mereka. Belum lagi bahaya dari ular, bahkan manusia yang kadang mengabaikan kelestarian burung maleo.
Mengingat satwa endemik Sulawesi ini berada dalam ancaman kepenuhan pemerintah didukung oleh penggiat lingkungan telah mengeluarkan peraturan yang melarang perdagangan burung maleo.
Bahkan status burung ini sudah masuk dalam daftar hewan yang dilindungi CITES. Masuk dalam Apendis I. Artinya tidak boleh diperjualbelikan karena memang mulai langka. Di seantero dunia hanya ada di pulau Sulawesi. Sayangnya belum ada pelaku yang dijerat sehingga perburuhan burung maleo masih terus terjadi hingga kini.
Karena tingginya ancaman kepunahan burung maleo, WCS mengupayakan pelestarian burung maleo melalui penetasan buatan di hatchery (tempat penetasan) di Taman Nasional Bogani Nani Warta Bone Provinsi Gorontalo. Tentu dengan melibatkan masyarakat setempat.
Tagau Hindari Cendera
Ukuran hatchery yaitu 5x 3 meter, bahannya terbuat dari campuran semen pasir, krikil yang dicor untuk dijadikan alasnya, bagian tengah menggunakan dinding dengan ram besi dan bagian dalam menggunakan tagau, yang terbuat dari jaring nilong. Dengan adanya tangau, burung yang menetas tidak akan menabrak di dinding atau ram besi yang bisa bikin cedera.
Di tempat penangkaran telah disediahkan lubang-lubang penetasan telur , telur-telur itu ditanam di dalam dan diatur sedemikian rupa, setiap lubang diberi tanda atau kode untuk membedakan dan mengetahui mana telur yang baru dan telur yang akan menetas.
Jika umur telur sudah 100 hari maka dianggap tidak akan menetas, sehingga akan diganti dengan telur yang baru. Telur yang baru semuanya ditanam dalam lubang-lubang yang telah disiapkan, kapasitasnya bisa memuat 124 butir telur. Saat ini WCS telah memiliki hatchery liliana, bambu, dan tetraminus. Hatchery liliana yang menampung 70 butir telur, bambu isinya seratus lebih sedangkan tetraminus lagi kosong.
Proses mengeraman di hatchery tidak bedanya dengan proses penetasan di alam.”Jadi prilaku maleo di hatchey sama dengan tidak tingkah lakunya di alam liar,”jelas Usman, alumnus IKIP Gorontalo ini. Telur-telur di alam dipindahkan ke dalam hatchery, agar proses penetasan lancar dan gampang dikontrol.
Begitu menetas, piyikan bakal muncul kepermukaan tanah. Anak maleo itu lalu dikeluarkan dari hatchery. Beberapa saat ia masih celingkungan, kemudian terbang melewati pepohonan disekitar kandang penangkaran.
Lalu bagaimana tingkat keberhasilan perbandingan antara penetasan di alam dengan penetasan buatan?. Usman yang sudah bertahun-tahun mengeluti pelestarian burung maleo, mengaku sejauh ini belum pernah dilakukan studi keberhasilan tingkat perbandingan penetasan di alam dengan buatan.
Tetapi di alam tingkat ancaman cukup tinggi, seperti ancaman predator antara lain burung elang, anjing karena mobilitas dan aksesbilitas warga dari kampung Tulang Boki dengan kampung lainya sepanjang hari itu selalu ada. ”Mereka juga biasanya datang dengan banyak anjing dan singgah disini sehingga menganggu burung maleo yang lagi beraktivitas, baik yang sementara bertelur ataupun bisa mengali lubang bertelur. Anjing-anjing itu memakan telur burung maleo,”.ungkapnya.
Selain itu, warga yang berdomisili di sekitar taman nasional ini banyak beraktivitas mengambil rotan dan biasanya mereka singgah dan mengambil telur-telur burung maleo.”Ancaman-ancaman itu sangat menganggu penetasan di alam,”ujarnya.
Populasi burung liar berwarna hitam mengkilap itu saat ini, menurut perkiraan WCS hanya berkisar kurang dari 3.000 ekor yang mendiami Taman Nasional Bogani Nani Warta Bone Gorontalo.
Sementara Birdlife Indonesia memperkirakan, jumlah maleo di alam diperkirakan hanya berkisar 8.000 hingga 14.000 ekor. Namun jumlah itu terus menyusut seiring dengan rusaknya habitat dan tingginya kematian piyikan serta maraknya perburuhan liar.
”Tanpa pengawasan dan perlindungan yang memadai, bukan tidak mungkin burung endemik Sulawesi ini terancam punah dalam waktu dekat”.*